Gambaran Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin dan Laju Endap Darah pada Perokok dan Pecandu Minuman Keras

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Makanan dan minuman merupakan elemen penting bagi tubuh manusia. Hal ini disebabkan karena makanan memberikan energi bagi tubuh untuk melakukan aktivitas. Namun tidak semua minumam baik untuk kesehatan, salah satunya minuman keras. Minuman keras jika di konsumsi dalam jumlah berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya sistem organ dalam tubuh.
Menurut World Health Organisation (WHO), sebanyak 600.000 warga Eropa meninggal setiap tahunnya karena masalah yang berhubungan dengan minuman keras. Akan tetapi, Eropa berniat menata kembali kebijakannya terhadap pengguna minuman keras. Sejak dulu pemerintah memperingati warganya tentang efek yang dapat terjadi dari mengonsumsi minuman keras. Uni Eropa telah menyeruhkan kepada anggotanya untuk mempertimbangkan pemberlakuan label peringatan bahaya kesehatan(caroline F, 2006)
Di Indonesia sendiri menyalahgunakan alkohol juga menjadi masalah kesehatan yang cukup serius. Munculnya pemberitaan banyaknya peyalahgunaan minuman keras. Setidaknya merupakan indikasi bahwa minuman keras banyak di konsumsi oleh masyarakat. Menurut WHO pada tahun 2000 di informasikan  di Indonesia terdapat lebih dari 13.000 pasien penderita penyakit, terkait penyalahgunaan alkohol, dan pada tahun 2001 terdapat 50% dari total 65 kasus keracunan alkohol meninggal.
Merokok dapat menimbulkan resiko timbulnya barbagai penyakit atau gangguan kesehatan seperti penyakit tidak menular, baik pada perokok itu sendiri maupun orang lain yang ada di sekitarnya yang tidak merokok. Ada banyak bahan yang dikeluarkan oleh sebatang rokok dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Namun, beberapa di antaranya adalah gas CO (karbonmonoksida) dan nikotin. Gas CO yang di hasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3 – 6%, gas ini dapat di hisap oleh siapa saja, baik perokok sendiri, orang yang berada di dekat perokok, atau orang yang berada dalam satu ruangan dengan perokok. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) lebih kuat dibanding oksigen. Oleh karena itu, akan terjadi kekurangan oksigen udara. Sel tubuh yang yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan yaitu  melalui kompensasi pembuluh darah dangan jalan menciut ( spasme ). ( Anies, 2000 ).
Pada hakekatnya hasil pemeriksaan laboratorium memberikan gambaran yang akan di gunakan sebagai bahan informasi serta sangat di perlukan bagi kesehatan seseorang. Khususnya bagi pasien atau penderita, sehingga diagnosa dan keputusan terapi pengobatan dapat di lakukan dengan tepat. Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut sangat tergantung pada ketelitian, keterampilan dan pengetahuan pada teknisi laboratorium kesehatan khususnya para analis kesehatan dalam mempersiapkan bahan pemeriksaan dan proses pemeriksaan(perkins, 1998)
Kesehatan seseorang sering di periksa berdasarkan kesehatan darahya.Ada yang mengukur tekanan darah,tingkat kadar hemoglobin,atau laju endap darah. Pemeriksaan laju endap darah atau Erythrocyte Sedimentation Rate biasanya di lakukan secara rutin untuk mendeteksi penyakit akut atau sekedar check up biasa.Laju endap darah yang tinggi juga dapat menandakan adanya infeksi tertentu pada tubuh seperti influensa atau viral syndrome,radang tenggorokan,atau infeksi kulit.Laju endap darah dengan tingkat yang lebih tinggi (>100mm/jam) dapat menyertai gejala infeksi jantung  (endocarditis) atau infeksi sendi (septic arthritis).
Laboratorium kesehatan sebagai salah satu unit pelayanan kesehatan yang berperan dalam penegakan diagnosis suatu penyakit yang terbagi atas laboratorium yang lebih spesifik, salah satu diantaranya adalah laboratorium Hematologi yang menganalisis sebagai sampel darah dari penderita.Diantaranya jenis pemeriksaan hematologi adalah penetapan kadar hemoglobin dalam darah.(Naim,2003).


Berdasarkan uraian tersebut  diatas, penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian tentang “Gambaran Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin dan Laju Endap Darah pada Perokok dan Pecandu Minuman Keras”.
B.   Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas peneliti ingin mengetahui “Bagaimanakah Gambaran Hasil Pemeriksaan Kadar Hemoglobin dan Laju Endap Darah pada perokok dan pecandu minuman keras”?
C.   Tujuan penelitian
1.    Tujuan umum
Untuk memperoleh gambaran tentang  hasilpemeriksaan kadar hemoglobin dan laju endap darah pada perokok dan pecandu minuman keras.
2.    Tujuan khusus
a.    Untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin (Hb) pada perokok dan pecandu minuman keras.
b.    Untuk mngetahui gambaran laju endap darah (LED) pada perokok dan pecandu minuman keras.



D.   Manfaat penelitian
1.    Terhadap penulis, dapat mengetahui perbedaan kadar hemoglobin dan laju endap darah pada perokok dan pecandu minuman keras.
2.    Institusi, Sebagai sumbangsi ilmiah bagi almamater Program Diploma Tiga Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur Makassar.
3.    Masyarakat,Memberikan sumbangan pikiran dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A.   Tinjauan Umum Tentang Darah
1.     Pengertian darah
Darah merupakan cairan yang terdiri dari plasma(cairan bening) dan korpuskuli(sel-sel darah). Berada dalam konsintensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah yang menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi hemostasis. Di dalam tubuh manusia, darah mengalir keseluruh bagian tubuh(organ – organ) tubuh secara terus menerus untuk menjamin suplai oksigen dan zat – zat nutrien lainnya agar organ – organ tubuh tetap dapat berfungsi dengan baik. Aliran darah keseluruh tubuh dapat berjalan berkat adanya pemompa utama, yaitu jantung dan sistem pembuluh darah sebagai alat pengalir/ distribusi.(yofina Anggraeni, 2012)
Sel – sel darah terdiri atas campuran dari sel darah merah(eritrosit), sel darah putih(leukosit), dan trombosit. Plasma mengandung bermacam – macam protein, zat kimia, faktor – faktor pembekuan dan kaya dengan zat metabolic. Volume  atau darah secara keseluruhan kira – kira satu perdua belas atau  5 liter. Sekitar 55 persennya adalah cairan terdiri dari atas sel darah.(Evelyn, 2005).

2.    Komposisi darah
a.    Plasma darah
Sekitar 91% plasma darah terdiri atas air. Selebihnya adalah zat terlarut yang terdiri dari protein plasma(albumin, protrombin, fibrinogen, dan antibodi), garam mineral, dan zat – zat yang diangkut darah(zat makanan,sisa metabolisme gas – gas, dan hormon). Fibrinogen yang ada dalam plasma  darah merupakan bahan penting untuk pembekuan darah jika trjadi luka.( yofina Anggraeni, 2012)
Dalam plasma darah terkandung berbagai molekul mikro sampai molekul makro, baik yang bersifat larut air sampai yang tidak larut air, serta atom –atom maupun ion – ion. Sebagai cairan tubuh vital, darah memiliki karakteristik pH dan tekanan osmosis yang harus dipertahankan normal dengan komposisi bahan – bahan yang dikandungnya.
Seperti cairan tubuh lainnya yang ada di dalam sel maupun di luar sel, plasma darah mengandung protein, karbohidrat terutama glukosa, lipid, asam – asam amino, vitamin, mineral dll. Semuanya diperlukan sedemikian rupa sehingga dapat diangkut dalam medium air.(Abdul Salam M Sofro, 2012)
b.    Korpuskuli/sel – sel darah
Dalam darah ada tiga macam atau jenis sel, dua sel di antaranya memang berbentuk sel dengan mambran sel yang jelas dan dapat dilihat dibawah mikroskop, sementara satu lainnya terkesan sebagai keping – keping artefak dalam sedian apus darah dilihat di bawah mikroskop. Kedua sel yang di sebut pertama adalah sel darah merah(eritrosit) dan sel darah putih(leukosit),sedangkan sel yang disebut terakhir adalah sel pembeku darah(trombosit/pletelet). Ketiga sel tersebut berada di dalam darah tepi setelah melewati tahap – tahap perkembangan sel dari sel moyang yang sama di jaringan pembentuk darah atau hemotopooietik(Abdul Salam M Sofro, 2012)
1)    Sel darah merah(eritrosit)
Sel darah merah adalah sel yang memiliki fungsi khusus mengangkut oksigen ke jaringan – jaringan tubuh dan membantu pembuangan karbon dioksida dan proton yang dihasilkan oleh metabolisme jaringan tubuh. Berbeda dengan dua sel darah lainnya, sel darah merah merupakan sel terbanyak dengan struktur sederhana dibandingkan dengan sel tubuh lainnya. Bentuk bulat pipih seperti cakram bikonkaf berupa sekedar mambran yang membungkus larutan hemoglobin yang merupakan 95% total protein dalam sel darah merah, tanpa adanya organela sel termasuk inti sel.(Abdul Salam M sofro, 2012)
Jumlah sel darah merah yang normal kurang lebih dalah 5 juta sel/mm3 darah. Sel darah merah dibentuk pada tulang pipih di sumsum tulang dan dapat hidup hingga 120 hari.(yofina anggraeni, 2012).
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRI9y3s62d_tZ4WclU2AhyhYkNfEfPVJ_PXa0piRSnEy_4dwpn5nTU2pw4
Gambar 1.1 Eritrosit
2)    Sel darah putih(leukosit)
Sel darah putih sesungguhnya tidak berwarna putih tetapi jernih. Sel darah putih bentuknya tidak teratur atau tidak tetap.tidak seperti sel darah merah yang selalu barada di dalam pembuluh darah, sel darah putih dapat keluar dari pembuluh darah. Kemampuan untuk bergerak bebas diperlukan sel darah putih agar dapat menjalankan fungsinya untuk menjaga tubuh. Sel darah putih memiliki inti sel tetapi tidak berwarna atau tidak memiliki pigmen.
Berdasarkan zat warna yang diserapnya dan bentuk intinya sel darah putih di bagi menjadi lima jenis yaitu basofil, neutrofil, monosit, eosinofil, dan limfosit. Secara normal jumlah sel darah putih pada tubuh kita adalah kuran lebih 8.000 pada setiap 1 mm3 darah. Sel darah putih hidup hanya sekitar 12 – 13 hari. Fungsi sel darah putih sebagai pertahanan tubuh dari serangan penyakit.(yofina anggraeni, 2012)
http://dokterboy.files.wordpress.com/2010/03/leukosit.jpg
Gambar 1.2 Leukosit
3)    Keping darah(trombosit)
Keping darah berbentuk bulat atau lonjong. Ukuran keping darah lebih kecil dari sel darah merah. Jumlahnya kurang lebih 300.000 pada setiap 1 mm3 darah. Keping darah hidupnya singkat hanya 8 hari. Berfungsi pada proses pembekuan darah. Saat terjadi luka, darah keluar melalui luka tersebut, keping darah menyentuh permukaan luka, lalu pecah dan mengeluarkan trombokinase. Trombokinase dibantu dengan ion kalsium akan mengubah protrombin menjadi trombin. Trombin diperlukan untuk mengubah fibrinogen menjadi benang - benang fibrin. Luka akan ditutup oleh benang fibrin yang berupa benang - benang halus, sehingga darah berhenti keluar.(yofina Anggraeni, 2012).
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPdpydMOzQ4NcH1TqbwZMfxN8xacGJOhsBiDt29KWqkwj6jPXUdiiWR5aI
Gambar 1.3 Trombosit
3.    Fungsi darah
Darah bergerak dalam sistem sirkulasi sampai ke kapiler dari organ dan jaringan, kemudian menjalankan fungsinya untuk mengangkut bahan yang di butuhkan oleh sel dan dari sel mengangkut  bahan yang tidak dibutuhkan untuk dibuang. Yang penting dari bahan yang ditrasport adalah oksigen yang diambil dari paru – paru kemudian ditransport menuju sel serta membawa glukosa menuju ke sel dan jaringan yang sangat penting untuk kehidupan.
Selain itu darah berfungsi sebagai transport asam amino, asam lemak, mineral dan bahan nutrisi lainnya. Darah yang mentransport hormon dan vitamin ke sel untuk mengatur proses metabolisme di dalam sel. Melalui pertukaran ion – ion dan molekul pada cairan interstital, darah membantu mempertahankan pH dan kosentrasi elektrolit pada cairan interstital dalam batas yang dibutuhkan untuk fungsi sel yang normal. Darah mengangkut bahan hasil metabolisme dari sel seperti karbondioksida dari paru – paru, bilirubin menuju ke hati dan bahan toksik lainnya. Darah mentransport panas menuju kulit dan paru – paru dengan demikian ikut mengatur suhu tubuh. Selain dari fungsi tersebut, fungsi lainnya adalah untuk mempertahankan tubuh dan invasi mikroorganisme dan untuk reaksi imunologis akibat masuknya benda asing. Selain itu darah juga berperan penting dalam proses hemostasis. Jadi dapat disimpulkan darah mempunyai 3 fungsi penting yaitu:
a)    Berfungsi sebagai transport
b)    Berfungsi sebagai regulasi
c)    Berfungsi sebagai pertahanan tubuh
B.   Tinjauan Umum Hemoglobin
1.    Pengertian hemoglobin
Hemoglobin adalah suatu protein yang membawa oksigen dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 1982:171). Dengan kata lain hemoglobin merupakan komponen yang terpenting dalam eritrosit. Hemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxsihaemoglobin di dalam sel darah merah. Jumlah hemoglobin dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah, dan jumlah itu biasa disebut persen
Hemoglobin adalah zat yang terdapat dalam butir darah merah. Hemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung hame. Hame ini di buat dalam mitokokondria dan menambah acetid acid manjadi alpha ketoglutaricacid + glicine membentuk“pyrrole compound” menjadi protopophyrine II yang dengan Fe berubah menjadi hame. Selanjutnya 4 hame bersenyawa dengan globulin membentuk hemoglobin.(costill, 1998).
                        Dibandingdengan protein lain, hemoglobin(Hb) memberi sumbangan besar terhadap pengetahuan dengan terungkapnya banyak molekul protein dan asam amino sebagai komponen penyusunannya.Hal ini dimungkinkan karena hemoglobin mudah diambil dari darah sebagai salah satu jaringan atau organ tubuh yang paling mudah diambil untuk kepentingan pemeriksaan tanpa menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.Agar dapat memahami lebih lanjut bagaimana molekul hemoglobin yang hanya ada didalam sel darah merah mampu melaksanakan fungsinya,perlu diketahui dahulu  struktur hemoglobin dan fungsinya dalam tubuh.(Abdul salam M.Sofro, 2012)
2.    Fungsi hemoglobin
Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah (SDM) dan berfungsi antara lain :
a.    Mengikat dan membawa oksigen dari paru – paru ke seluruh jaringan tubuh
b.    Mengikat dan membawa CO2 dari seluruh jaringan tubuh ke paru –paru
c.    Memberi warna  merah pada darah
d.    Mempertahankan keseimbangan asam – basa dari tubuh
Hemoglobin merupakan protein tetramer kompak yang setiap monomernya terikat pada gugus prostetik hem dan keseluruhannya mempunyai berat molekul 64.450 dalton.(Sadikin, 2001)
3.    Sintesis hemoglobin
Peran dan fungsi sel normal darah sangat bergantung pada normalnya hemoglobin di dalamnya baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Mengingat hemoglobin mengandung dua unsur penyusun yaitu heme dan globin maka normalnya molekul hemoglobin juga dipengaruhi oleh sintesis normal heme dan globin yang melibatkan bahan baku dan normalnya jalur reaksi yang dilaluinya.
Gangguan pada sintesis salah satu unsur akan berakibat terbentuknya molekul hemoglobin yang kurang atau tidak mampu berfungsi optimal. Sebagai contoh, sintesis molekul heme memerlukan unsur mineral yaitu zat besi (Fe). Bilamana ketersediaan dalam tubuh kurang, maka heme yang terbentuk jug akan berkurang, akibatnya meskipun sintesis molekul globin berlangsung normal, hemoglobin yang seharusnya terbentuk dari penggabungan globin dan heme juga akan terganggu. Sebaliknya sintesis heme berlangsung normal, sementara itu terdapat kekurangan asam-asam amino atau protein, maka sintesis rantai protein globin dapat juga terganggu.( Abdul Salam M. Sofro, 2012)
Sintesis hemoglobin terjadi didalam organ hemopetik (sumsum tulang) mula-mula suksinat dan glisin bergabung didalam organ haemopetik membentuk asam amino ketaodipat dan asam amino levulinat. Kedua asam tersebut dihasilkan dibawah pengaruh ALA (amino laevulinic acid) sintesis yang merupakan enzim pengatur kecepatan bagi keseluruhan sintesis hemoglobin. Dua molekul ALA berkondensasi menjadi satu molekul porfobilinogen, monopirol pengganti dan empat molekul porfobilinogen berkondensasi (menggunakan uroporfirinogen I sintase dan uroporfirinogen III ko-sintese) untuk membentuk komponen isomer terapirol (pofirin) siklik, uroporfirinogen seri I dan III.(Costill, 1998)

4.    Metode penetapan kadar hemoglobin
Di laboratorium Klinik,kadar hemoglobin dapat di tentukan dengan berbagai cara,di antaranya dengan cara kalorimetrik seperti cara sianmethemoglobin(HiCN) dan cara oksihemoglobin(Hb02).(Anonim, 1992).
Cara sahli bukanlah cara yang teliti. Kelemahan metodik berdasarkan kebanyakan bahwa kolorimetri visual tidak teliti, bahwa hematin asam itu bukan merupakan sejati dan bahwa alat itu tidak dapat distandarkan. Cara ini juga kurang baik karena tidak semua macam hemoglobin di ubah menjadi hematin asam,    umpamanya karbokxyhemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin.
Ketelitian yang biasanya dicapai oleh ± 10% kadar hemoglobin yang ditentukan dengan cara sahli dan cara-cara kolorimetri visual lain hanya patut dilaporkan meloncat-loncat ½ g/dl, sehingga laporan menjadi ump, 11, 11 ½, 12, 12 ½, 13 g/dl; ketelitian dan kecepatan cara sahli yang kurang memadai tidak membolehkan laporan seperti itu.
Hemoglobinometer yang berdasarkan penetapan hematin asam menurut sahli dibuat oleh banyak pabrik. Perhatikanlah bahwa bagian-bagian alat yang berasal dari pabrik yang berlainan biasanya tidak dapat saling dipertukarkan : tabung pengencer berlainan diameter, warna standart berlainan intensitsnya, dll.
Karena itu penting sekali untuk menggunakan bagian-bagian alat yang sesuai pabriknya, kelainan dalam hal ini mengakibatkan salah penetapan yang mungkin jauh melebihi ± 10%. Perhatikanlah selalu petunjuk-petunjuk yang menyertai alat sahli dari sesuatu pabrik, mungkin peraturannya agak berlainan.
Selain cara sahli ada pula cara-cara lain yang berdasarkan kolorimetri dengan hematin asam. Di Indonesia cara sahli masih banyak dipakai di laboratorium kecil yang tidak mempunyai fotokolorimeter (R. Gandasoebrata, 2006)
batasan normal kadar hemoglobin
Kriteria
Harga Normal
Pria Dewasa
13,5 – 17,5 gr/dl
Wanita Dewasa
11 - 15 gr/dl
   (A.Azis Alimul Hidayat, 2004)
Prinsip pemeriksaan Hemoglobin dengan metode sianmethemoglobin adalah: pemberian kalium Ferrisianid dan Kalium Sianid menyebabkan hemoglobin diubah menjadi Sianmethemoglobin. Warna yang timbul mempunyai densitas yang sebanding dengan jumlah hemoglobin. (pakasi, 1986).
Sumber kesalahan pada pemeriksaan Hb dengan metode sianmethemoglobin adalah: statis vena pada waktu pengambilan darah menyebabkan kadar hemoglobin lebih tinggi dari seharusnya, terjadinya bekuan darah, tidak mengocok darah sewaktu mengambil bahan untuk pemeriksaan, menggunakan reagens atau larutan standar yang tidak baik lagi, menggunakan pipet 20 µl atau 5,0 ml yang tidak akurat, untuk itu perlu dilkukan kalibrasi pipet, cara memipet yang tidak tepat, baik sewaktu mengambil darah dengan pipet 20 µl maupun sewaktu reagen dengan pipet 5,0 ml, spektofotometer yang kurang baik, misalnya pengaruh panjang gelombang yang tidak tepat. Untuk itu perlu diadakan kalibrasi panjang gelombang. Perubahan pada spektofotometer mengharuskan kita untuk membuat kurva standar baru, perubahan tegangan listrik akan mempengaruhi pembacaan serapan, darah yang lipemik dapat mengakibatkan hasil yang lebih tinggi dari seharusnya, adanya lekositosis berat (lebih dari 50.000/µl) menyebabkan hasil pengukuran kadar hemoglobin lebih tinggi dari seharusnya. (Anonim, 1996).
C.   Tinjauan Umum Tentang Laju Endap Darah
1.    Pengertian LED
Laju Endap Darah / Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) adalah kecepatan mengendapnya eritrosit dari suatu monter atau sampel darah yang diperiksa dalam  suatu alat tertentu yang dinyatakan dalam  mm/ jam.( http://aaknasional.wordpress.com/2012/06/21/laju-endap-darah/)
LED merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium tertua dalam kedokteran klinis dan benar – benar mempunyai spektrum yang luas, merupakan indikator non spesifik bagi penyakit dan pemantauan yang bermanfaat bagi perkembangan penyakit. Tanpa mempertimbangkan tuanya pemeriksaan ini, fonomena dasar yang mendasar LED sebagai tes laboratorium standar tidak berhasil dan jika dilakukan dan di interpretasikan dengan benar, maka LED akan dapat mempertahankan fungsinya sebagai pemeriksaan yang murah, sederhana, bermanfaat untuk tujuan praktis, peningkatan LED disebabkan oleh meningkatnya agregasi dan sel – sel darah merah karena perubahan dalam protein plasma.( Hardjoeno, 2003 ).
LED menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antarar eritrosit dengan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimasukkan ke dalam tabung berlumen kecil dan diletakan tegak lurus, akan menunjukan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan. Volume eritrosit pengendapan sel ini yang disebut  Laju Endap Darah bertambah cepat bila sel meningkat, tetapi kecepatan berkurang apabila permukaan sel lebih luas. Sel – sel kecil mengendap lebih lambat dari pada sel – sel yang menggumpal, karena bila sel – sel mengumpal peningkatan berat gumpalan lebih besar dari pada peningkatan luas permukaan. Dalam darah normal nilai Laju Endap Darah relative kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi.
Bila viskositas plasma atau kadar kolestrol meningkat  tekanan ke atas mungkin dapat menetralisasi tarikan ke bawah terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang peningkatan penggumpulan atau peredaran sel satu dengan sel yang lain akan meningkat laju endap darah.(Rovina A, 2011)
2.    Kegunaan LED
Laju Endap Darah memiliki tiga kegunaan utama, yaitu
a)    Untuk menunjang diagnosis
b)    Memantau perjalanan penyakit
c)    Respon terhadap pengobatan
LED merupakan uji yang tidak spesifik.LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut,infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis, penyakit kalogen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stres fisologis (misalnya kehamilan ).pemeriksaan laju endap darah atau Erythrocyte sedimentation rate biasanya dilakukan secara rutin untuk mendeteksi penyakit akut sekedar check up biasa.proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan ) darah ini di ukur dengan memasukan darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam.makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi pula laju endap darahnya. Tinggi rendahnya laju endap darah sangat dipengaruhi oleh tubuh. Biasanya, jika terjadi radang laju endap darah tergolong tinggi.
3.    Metode LED
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen. LED berlangsung 3 tahap, tahap ke-1 penyusunan letak eritrosit (rouleaux formation) dimana kecepatan sedimentasi sangat sedikit, tahap ke-2 kecepatan sedimentasi agak cepat, dan tahap ke-3 kecepatan sedimentasi sangat rendah.(http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/laju-endap-darah-led.html)
Pada cara wintrobe nilai rujukan untuk wanita 0 – 20 mm/jam dan untuk pria 0 – 10 mm/jam,sedangkan pada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita 0 -15 mm/jam dan untuk pria 0 – 10 mm/jam.Laju endap darah tinggi atau rendah tentu disebabkan oleh beberapa faktor.Faktor eritrosit,plasma,dan teknik dapat mempengaruhi laju endap darah.
Laju endap darah dapat digunakan sebagai indikator adanya suatu penyakit. Pemeriksaan laju endap darah harus dilakukan secermat mungkin.Selama pemeriksaan,tabung atau pipet harus tegak lurus dan dalam keadaan tidak bergoncang,karena ini akan mempercepat pengendapan. Pemeriksaan laju endap darah juga harus dikerjakan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah, karena dapat mempengaruhi keakuratan pemeriksaan.(Gandasoebrata, 2006)
D.   Tinjauan Umum Rokok
Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diduga hingga menjelang tahun 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta orang per tahunnya.Diperkirakan pada tahun 2030 tidak kurang dari 70%  kematian yang disebabkan oleh rokok akan terjadi di negara berkembang.Ada banyak bahan yang dikeluarkan oleh sebatang rokok dan berbahaya bagi kesehatan manusia.Namun, beberapa diantaranya adalah gas CO (karbon monoksida)dan nikotin. (anies,2000)
Rokok terbuat dari tembakau yang diperoleh dari tanaman Nicotiana Tabacum L. Tembakau dipergunakan sebagi bahan untuk sigaret, cerutu, tembakau untuk pipa serta pemakaian oral. Rokok yang terbakar merupakan suatu pabrik kimia yang menghasilkan lebih kurang 200 komponen akibat berbagai proses yang terjadi. Komponen ini dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu:
1.    Komponen gas ialah bagian yang dapat melewati filter antara lain : CO, CO2, oksida – oksida nitrogen, amonia, gas - gas N-nitrosamine, hydrogen syanida, sianogen, senyawa – senyawa belerang, aldehid dan keton.
2.    Komponen padat ialah bagian yang tertinggal pada filter berupa nikotin dan tar. Diantara zat kimia itu yang terpenting dan yang sudah ada kaitannya dengan penyakit adalah tar, nikotin, dan monoksida tar sebagai geta tembakau adalah zat berwarna coklat berisi  berbagai jenis hidrokarbon aromatic polisiklik, amin aromatik N-nitrosamine. Tar yang dihasilkan asap rokok akan menimbulkan iritasi pada saluran nafas, menyebabkan bronchitis, kanker nasofaring dan kanker paru(Anonim, 2000).
 Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok antara 0,5 – 3 ng, dan semuanya diserap, sehingga di dalam cairan darah atau plasma antara 40 – 50 ng/ml. Efek nikotin menyebabkan perangsangan terhadap hormon adrenalin, yang bersifat memacu jantung dan tekanan darah. Jantung akan bekerja keras, sedangkan tekanan darah akan semakin meninggi, dan berakibat timbulnya hipertensi. Efek lain merangsang berkelompoknya trombosit, trombosit akan bergumpal dan akhirnya akan menyumbat pembuluh darah yang sudah sempit akibat asap yang mengandung CO yang berasal dari rokok.( Anies, 2000).
Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin(Hb) yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) lebih kuat dibanding oksigen. Oleh karena itu, akan terjadi kekurangan oksigen udara, ditambah lagi sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen, sebab yang diangkut adalah CO dan bukan O2 (oksigen). Sel tubuh yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut (spasme). Bila proses spasme berlangsung lama dan terus menerus, akibatnya pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah. Penyempitan yang berat atau penyumbatan dari satu atau lebih arteri koroner berakhir dengan kematian jaringan (infrak miokard) dan berakibat serangan jantung. Komplikasi dari infrak miokard  termasuk aritmia jantung (irama jantung tidak teratur) serta jantung berhenti mendadak.(anies,2000)
E.   Tinjauan Umum  Minuman Keras/Beralkohol
Minuman beralkoholadalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif  dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.
Efek yang ditimbulkan setelah mengonsumsi alkohol dapat dirasakan beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung jumlah dan kadar alkohol yang dikonsumsi. Alkohol dapat menimbulkan perasaan rileks, dan pengguna akan lebih mengekspresikan emosi, seperti rasa senang, rasa sedih, dan kemarahan. Bila berlebihan akan munculkan efek seperti lebih luas lagi mengekspresikan diri, tanpa adanya perasaan terhambat menjadi emosional, seperti sedih, senang, marah secara berlebihan, muncul ke fungsi motorik, yaitu pandangan menjadi kabur dan sempoyongan, bahkan tidak sadarkan diri.
Peminum minuman keras cenderung memiliki tekanan darah yang relatif lebih tinggi dibandingkan non-peminum, demikian pula mereka lebih beresiko mengalami stroke dan serangan jantung. Peminum kronis (menahun) dapat pula bingung, kesulitan berjalan dan kehilangan memori. (Widianarko Dkk, 2000).
Ketika seseorang meminum minuman yang beralkohol sebanyak 2% dari alkohol tersebut terserap dalam perut dan sekitar 80% terserap oleh usus kecil seberapa cepat alkohol tersebut bereaksi dalam tubuh, tergantung pada beberapa hal :
1.    Kandungan alkohol dalam minuman tersebut semakin besar kandungannya, semakin cepat pula reaksinya.
2.    Jenis minuman.
3.    Keadaan perut yang kosong. Jika perut kenyang, maka reaksi penyerapan alkohol juga lambat.
Setelah terserap, alkohol akan masuk dan larut dalam darah. Darah akan menyebarkan alkohol keseluruh tubuh, alkohol dari darah tersebut akan masuk diserap jaringan halus tubuh dan alkohol akan memberikan efek reaksi pada tubuh. Biasanya alkohol akan bereaksi sekitar 20 menit setelah dikomsumsi. Alkohol dapat keluar dari tubuh melalui tiga jalan, yaitu :
a. Ginjal, yang dikeluarkan melalui air seni (kencing).
      b.  Paru-paru, melalui hembusan nafas.
c.    Liver, dengan jalan memecah kandungan kimia alkohol
F.    Kerangka pikir
Berdasarkan dengan banyaknya pemeriksaan darah pada perokok dan pecandu minuman keras yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah pada tubuh. Oleh karena itu untuk mengetahui resiko pada perokok dan pecandu minuman keras maka di lakukan pemeriksaan hemoglobin dan laju endap darah untuk dilakukan perbandingan dengan metode atau cara yang sesuai dengan pemeriksaan. Adapun skematik kerangka pikir adalah sebagai berikut:
 






Gambar 2.1 kerangka pikir










BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.   Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan observasi laboratorium untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin (Hb) dan laju endap darah (LED) pada perokok dan pecandu minuman keras.
B.   Alur Penelitian
 












Gambar 3.1 Alur Penelitian




C.   Variabel Penelitian
1.    Variabel Bebas (Independent Variable)
Perokok dan pecandu minuman keras.
2.    Variabel Terikat (dependent  Variable)
Kadar hemoglobin (Hb) dan laju endap darah (LED)
D.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi Sampel
Pemuda Perokok dan pecandu minuman keras
2.    Besar Sampel
Besar sampel yang diambil sebanyak 10 (sepuluh) orang perokok dan10 (sepuluh) orang  pecandu minuman keras
3.    Kriteria sampel
a.    Perokok diatas umur 18 tahun dan yang mengkonsumsi rokok selama lebih dari 3 tahun
b.    Rata - rata merokok sebanyak 6 – 12 batang/hari
c.    Peminum diatas umur18 tahun dan yang mengkonsumsi minuman keras selama lebih dari 3 tahun
d.    Rata – rata mengkosumsi minuman keras sebanyak 2 – 3 botol/minggu




E.   Waktu dan Lokasi penelitian
1.    Waktu Penelitian
Rencana penelitian dilakukan pada bulan Mei 2013
2.    Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian di laboratorium D3 Analis Kesehatan Universitas Indonesia Timur.
F.    Defenisi Operasional
1.    Kadar Hemoglobin (Hb) adalah jumlah hemoglobin dalam darah yang dinyatakn dalam gram %
2.    Laju Endap Darah (LED) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit  dalam darah yang belum membeku dengan satuan mm/jam.
3.    Perokok adalah orang yang telah merokok lebih dari 3 tahun pada usia di atas 18 tahun.
4.    Pecandu minuman keras adalah orang yang sering mengkonsumsi minuman keras lebih dari 3 tahun pada usia di atas 18 tahun.
G.   Prosedur kerja
1.    Alat dan Bahan

   a.Penetapan Kadar Hemoglobin dengan menggunakan metode sahli.
   b. Alat dan Bahan yang dugunakan adalah
   1.Haemometer set sahli :
      Standart
a)     Pipet  Sahli
b)     Karet  Pengisap
c)         Batang pengaduk
d)    Pipet  tetes
1)    Lancet  steril / hemolet / spoit steril
2)    Tabung Vial / antikoagulan Na2EDTA
3)    Kapas alkohol 70 % dan kapas kering
4)    Aquades, kertas saring / tissue
a.      Penetapan laju endap darah dengan menggunakan Metode Wintrobe
1)     Alat dan Bahan yang digunakan adalah :
a)     Pipet  wintrobe
b)     Tabung wintrobe
c)      Sampel darah
d)     Darah EDTA atau darah oxalat.
2.      Cara kerja
a.      Penetapan kadar hemoglobin menggunakan Metode Sahli
1)     Persiapan alat dan bahan ( Haemometer )
2)     Kedalam tabung pengencer Haemometer diisi HCL 0,1 N sampai tanda 2
3)     Isaplah darah kapiler atau darah vena EDTA dengan pipet hemoglobin sampai tanda 20 atau 0,02 ml.
4)     Hapuslah darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet
5)     Selanjutnya segeralah alirkan darah dari pipet kedalam dasar tabung  pengencer berisi HCl 0,1 N
6)     Angkatlah pipet sedikit, lalu isap HCl kedalam pipet 2 – 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tinggal dalam pipet
7)     Campurlah isi tabung supaya darah dan asam bersenyawa (homogen) biarkan 2 – 3 menit sampai warna coklat tua
8)     Tambahkan aquades tetes demi tetes, tiap kali diaduk dengan batang pengaduk. Persamaan warna campuran dan standar Sahli yang dibaca pada cahaya terang
9)     Bacalah kadar hemoglobin dalam satuan gram / 100 ml darah atau g / dl atau g / %.
b.      Penetapan Laju Endap Darah dengan menggunakan metode Wintrobe
1)     Perolehlah darah EDTA atau darah oxalat
2)     Dengan memakai pipet wintrobe masukkan darah itu kedalam tabung wintrobe setinggi garis tanda o mm.jangan sampai terjadi gelembung hawa atau busa
3)     Biarkan tabung wintrobe itu dalam sikap tegak lurus pada satu tempat yang tak banyak angin selama 60 menit
4)     Bacalah tingginya lapisan plasma dengan mm dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah
H.   Analisis Data
Analisis data disajikan dalam bentuk tabel dan analisa secara deskriptif berdasarkan presentase dan gambaran kadar hemoglobin dan laju endap darah pada hasil pemeriksaan